SPONSOR

Monday, 13 February 2017

RANCANGAN PENELITIAN DASAR

Menurut Papalia (2008), rancangan penelitian merupakan sebuah rencana untuk melakukan suatu penelitian yang bersifat ilmiah. Dimana dalam rancangan penelitian terdapat pertanyaan terkait dengan pertanyaan apa yang harus dijawab, bagaimana cara memilih partisipan dalam penelitian, bagaimana cara mengumpulkan sebuah data dalam penelitian, bagaimana cara melakukan interpretasi berdasarkan sebuah data, serta bagaimana cara memperoleh sebuah kesimpulan yang valid berdasarkan data yang telah diperoleh. Hal ini membuat peneliti akan menentukan rancangan penelitian apa yang akan peneliti gunakan untuk memperoleh sebuah data. Adapun rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus, studi etnografi, studi korelasional, dan eksperimen. Dalam rancangan penelitian studi kasus dan studi etnografi bersifat kualitatif. Sedangkan studi korelasional dan eksperimen bersifat kuantitatif, dimana dalam setiap jenis rancangan penelitian memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, serta memiliki karakteristik tertentu. Adapun karakteristik, kelebihan, dan kelemahan masing-masing rancangan penelitian, adalah sebagai berikut :

Jenis
Karakteristik Utama
Kelebihan
Kelemahan
Studi Kasus
Mempelajari seseorang secara mendalam
Fleksibel karena menghadirkan gambaran secara mendetail mengenai perilaku dan perkembangan seseorang.
Dapat menghasilkan hipotesis.
Ada kemungkinan tidak dapat digeneralisis kepada orang lain.
Tidak dapat diuji secara langsung.
Tidak dapat membangun hubungan kasualitas.
Studi Etnografi
Studi mendalam terhadap kultur atau subkultur
Dapat mengatasi bias kultur dalam teori dan riset.
Dapat menguji universalitas sebuah fenomena.
Bermasalah dengan bias pihak pengamat.
Studi Korelasional
Menemukan hubungan positif atau negatif antarvariabel
Dapat melakukan sebuah prediksi satu variabel berdasarkan variabel lain.
Dapat memberikan saran hipotesis mengenai hubungan yang bersifat kasual.
Tidak dapat membangun hubungan kasualitas dengan sendirinya.
Eksperimen
Prosedur terkontrol karena eksperimenter berusaha untuk mengontrol variabel independen yang bertujuan untuk menentukan dampak terhadap variabel dependen.
Dapat dilakukan di laboratorium ataupun lapangan.
Membangun hubungan kasualitas.
Memiliki prosedur yang sangat terkontrol.
Memiliki tingkat kontrol tertinggi.
Temuan berasal dari eksperimen laboratoris.
Memiliki kemungkinan tidak dapat digeneralisir kepada situasi di luar laboratorium.

Sumber Bacaan :

Papalia, Diane E. et al. (2008). Psikologi Perkembangan, Edisi Kesembilan, Cetakan Kedua (Human Development, 9th Edition). Terj : A. K. Anwar. Jakarta : Kencana

Tuesday, 31 January 2017

KEPUASAN KERJA


1.      Definisi Kepuasan Kerja
Menurut Davis dan Keith (1985), kepuasan kerja merupakan suasana psikologis yang dirasakan oleh individu terkait dengan perasaan menyenangkan ataupun tidak menyenangkan terhadap pekerjaan yang sedang mereka lakukan. Kemudian Porter dan Lawler (2000) menjelaskan bahwa kepuasan kerja merupakan sebuah bangunan yang bersifat unidimensional, dimana seseorang memiliki kepuasan umum atau ketidakpuasan terhadap pekerjaannya. Sementara itu Vroom (1999) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai suatu acuan dari orientasi yang efektif seorang pegawai terhadap peranan mereka dalam jabatan yang individu pegang saat ini. Secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan perasaan yang dimiliki oleh seseorang mengenai pekerjaan yang mereka jalani, baik pekerjaan yang membuat mereka bahagia atapun keluar dari pekerjaan tersebut (dalam Ruvendi, 2005)

2.      Aspek-aspek Kepuasan Kerja
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Lock, aspek-aspek kepuasan kerja terdiri dari :
·         Pekerjaan itu sendiri, dimana hal ini berkaitan dengan pekerjaan yang menarik bagi individu dan memahami bahwa nilai dari pekerjaan itu sendiri merupakan sumber dari kepuasan.
·         Kesempatan untuk dipromosikan, yaitu peluang untuk menduduki jenjang hierarki yang lebih tinggi yang tersedia dalam suatu organisasi, seperti kesempatan untuk berprestasi dan aspek keadilan.
·         Supervisi, merupakan kemampuan pemimpin untuk memberikan bantuan teknis dan dukungan perilaku terhadap pelaksanaan kerja karyawan memberi dukungan serta tingkat kebebasan.
·         Imbalan yang layak, yaitu jumlah imbalan finansial yang diterima oleh karyawan yang dipandang adil terhadap pekerja lainnya, seperti gaji yang sesuai dengan harapan, gaji yang adil, penghargaan, dan tunjangan.
·         Dukungan rekan kerja. Dukungan kerja ini merupakan hal yang dilakukan karyawan ketika bekerja sama dalam suatu pekerjaan yang menunjukkan sikap bersahabat dan mendorong dalam peningkatan prestasi melalui saling memberikan dukungan (dalam Risambessy, Swasto, Thoyib & Astuti , 2011).

3.      Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Robin (2002) menyebutkan bahwa sumber dari kepuasan kerja terdiri atas pekerjaan yang menantang, imbalan yang sesuai, kondisi/lingkungan kerja yang mendukung, dan rekan kerja yang mendukung. Sedangkan peneliti lain menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja seperti faktor yang berhubungan dengan pekerjaan, kondisi kerja, rekan sejawat, pengawasan, promosi jabatan, dan gaji (dalam Ruvendi, 2005). Di sisi lain, Triyanto (2009) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa kepuasan kerja seseorang dapat diamati dari sikap, perilaku, cara pandang, dan situasi di tempat kerja.

4.      Dampak Kepuasan Kerja
Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa apabila seseorang merasa tidak puas dengan pekerjaan yang mereka lakukan, hal tersebut akan ditunjukkan dengan adanya penurunan produktifitas, ketidakhadiran kerja, pemogokan dalam bekerja, dan pergantian karyawan. Selain itu akibat dari ketidakpuasan kerja, karyawan akan mengalami penurunan prestasi kerja, kurang disiplin, serta rendahnya hasil yang diperoleh dari kinerja karyawan (dalam Triyanto, 2009). Namun, Hackman (1977) menyebutkan bahwa suatu pekerjaan dapat memberikan kepuasan kerja terhadap karyawan apabila pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan menuntut keterampilan dan keahlian yang bervariasi, utuh, memberikan kebebasan kepada karyawan untuk memilih cara-cara dalam menyelesaikan pekerjaan yang mereka lakukan, serta memberikan umpan balik kepada karyawan mengenai pekerjaan yang telah mereka lakukan (dalam Gunawan, 2012)

Sumber Bacaan :
Gunawan, Hendra. (2012). “Politik Organisasi dan Dampaknya terhadap Komitmen Organisasi, Kepuasan Kerja, dan Organizational Citizenship Behavior (OCB)”. Dalam Jurnal Manajemen, Vol. 12, No. 1, November 2012, Hlm. 13-26
Risambessy, Agusthina., Bambang S., Armanu T., & Endang Siti A. (2011). “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional, Motivasi, Burnout terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Karyawan”. Dalam Jurnal Aplikasi Manajemen, Vol. 9, No. 3, Hlm. 840-851
Ruvendi, Ramlan. (2005). “Imbalan dan Gaya Kepemimpinan Pengaruhnya terhadap Kepuasan Kerja Karyawan di Balai Besar Industri Hasil Pertanian Bogor”. Dalam Jurnal Ilmiah Binaniaga, Vol. 1, No. 1, 2005, Hlm. 17-26
Triyanto, Agus. (2009). “Organizational Citizenship Behavior (OCB) dan Pengaruhnya terhadap Keinginan Keluar dan Kepuasan Kerja Karyawan”. Dalam Jurnal Manajemen, Vol. 7, No. 4, Mei 2009, Hlm 1-13


Sunday, 29 January 2017

JENIS-JENIS RANCANGAN PENELITIAN



Dalam sebuah penelitian, peneliti akan menentukan jenis rancangan apa yang akan mereka gunakan untuk memperoleh sebuah data penelitian. Creswell (2009) dalam bukunya menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis penelitian yang dapat digunakan, seperti penelitian kuantitatif, kualitatif, serta penelitian yang menggunakan metode campuran antara kuantitatif dan kualitatif.
1.      Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif merupakan suatu metode yang digunakan untuk menguji teori-teori tertentu dengan cara meneliti hubungan antarvariabel. Variabel-variabel yang diukur dalam penelitian kuantitatif biasanya menggunakan instrumen-instrumen penelitian, sehingga data yang diperoleh dalam penelitian berupa angka. Kemudian peneliti akan melakukan analisis data berdasarkan prosedur statistik. Hal ini membuat laporan akhir dalam penelitian kuantitatif memiliki struktur yang ketat dan konsisten karena penelitian ini terdiri dari pendahuluan, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, hasil penelitian, dan pembahasan. Selain itu, penelitian kuantitatif memiliki asumsi yang dilakukan secara deduktif untuk menguji teori, mencegah munculnya bias dalam penelitian, mengontrol penjelasan yang bersifat alternatif, serta mampu menggeneralisasikan dan menerapkan kembali penemuan sebelumnya (dalam Creswell, 2009).

2.      Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif merupakan sebuah metode penelitian yang digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami suatu makna yang berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan sejumlah individu atau sekelompok orang. Dalam penelitian kualitatif, peneliti dapat melibatkan upaya-upaya penting, seperti mengajukan pertanyaan dan prosedur dalam penelitian, mengumpulkan data spesifik yang berasal dari para partisipan, menganalisis data secara induktif dengan cara menentukan tema-tema khusus menjadi tema-tema umum, serta menafsirkan makna dari sebuah data. Laporan akhir dalam penelitian kualitatif memiliki struktur yang fleksibel karena peneliti memiliki cara pandang penelitian yang bersifat induktif, berfokus terhadap makna yang diperoleh secara individual, serta peneliti mampu menerjemahkan kompleksitas suatu persoalan (dalam Creswell, 2009).

3.      Penelitian Metode Campuran
Penelitian dengan menggunakan metode campuran merupakan suatu pendekatan dalam sebuah penelitian yang mengkombinasikan antara bentuk kualitatif dengan bentuk kuantitatif. Penelitian ini melibatkan asumsi yang bersifat filosofis serta menggunakan aplikasi pendekatan secara kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan dalam satu penelitian. Kemudian pendekatan ini cenderung lebih kompleks karena pendekatan ini bukan hanya mengumpulkan dan menganalisis dua jenis data, tetapi penelitian ini melibatkan fungsi dari dua pendekatan penelitian yang dilakukan secara kolektif. Hal ini membuat pendekatan ini memiliki kekuatan yang lebih besar secara keseluruhan daripada penelitian kualitatif dan kuantitatif (dalam Creswell, 2009).

Tuesday, 1 November 2016

DEFINISI KEPEMIMPINAN MENURUT PARA AHLI

Robert G. Owens (1991) mengartikan kepemimpinan sebagai kemauan dan keterlibatan seseorang secara sengaja dalam memengaruhi perilaku yang akan dilakukan oleh orang lain. Hal ini serupa dengan pendapat yang dikemukakan oleh Fillick dan Peterson (2001) yang menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan penetapan kemampuan untuk memengaruhi perilaku dan tindakan yang akan orang lain lakukan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan (Uha, 2014).
Menurut Kast dan Rosenzweig (2002), kepemimpinan merupakan kesanggupan seseorang untuk membujuk orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan Hunt dan Obson (2002) menggambarkan kepemimpinan menjadi dua jenis, yaitu (1) kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang ditentukan oleh peran seorang pemimpin berdasarkan standar supervisor dan kepekaan.; (2) pemimpin secara bebas menentukan intervensi yang akan dilakukan dalam menjelaskan respon perilaku (Uha, 2014).
Kemudian Tannembaum dan Massarik (2002) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pengaruh antarpribadi yang dilaksanakan dalam berbagai situasi dan diarahkan untuk mencapai sasaran tertentu melalui proses komunikasi. Selain itu, kepemimpinan menyangkut tentang usaha seorang pemimpin untuk mempengarui pengikutnya dan sanggup melakukan perubahan secara organisasional. Definisi kepemimpinan ini senada dengan definisi yang dikemukakan oleh DuBrin (1993) yang mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu usaha dalam mempengaruhi dan mengubah seseorang melalui proses komunikasi untuk mencapai suatu tujuan organisasi (Uha, 2014).
Pendapat lain dikemukakan oleh Stoner (1996), dimana Stoner menyatakan bahwa pemimpin adalah suatu proses untuk mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh anggota kelompok. Selanjutnya Maxwell (1995) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk memperoleh pengikut. Di sisi lain, Stogdill (1974) mencoba untuk memetakan definisi kepemimpinan sebagai berikut : (1) kepemimpinan sebagai proses kelompok, (2) kepemimpinan sebagai kepribadian berakibat, (3) kepemimpinan sebagai kemampuan mempengaruhi, (4) kepemimpinan sebagai sendi dalam menciptakan kesepakatan, (5) kepemimpinan sebagai tindakan perilaku, (6) kepemimpinan sebagai bentuk bujukan, (7) kepemimpinan sebagai suatu hubungan kekuasaan, (8) kepemimpinan sebagai sarana dalam mencapai tujuan, (9) kepemimpinan sebagai hasil interaksi, (10) kepemimpinan sebagai pemisah peranan antara atasan dengan bawahan, dan (11) kepemimpinan sebagai awal struktur (Uha, 2014).

Sumber Bacaan :

Uha, Ismail N. (2014). Manajemen Perubahan (Teori dan Aplikasi pada Organisasi Publik dan Bisnis). Bogor : Ghalia Indonesia

Sunday, 30 October 2016

PERBEDAAN PEMIMPIN DAN MANAJEMEN


Bagi banyak orang, kata manajemen mengesankan kata-kata, seperti efisiensi, perencanaan, pekerjaan tertulis, prosedur, regulasi, kontrol, dan konsistensi. Kemudian kepemimpinan seringkali diasosiasikan dengan kata-kata, seperti pengambilan risiko, dinamis, kreativitas, perubahan, dan visi. Namun, beberapa orang mengatakan bahwa kepemimpinan pada dasarnya adalah pemilihan nilai. Dengan demikian, kepemimpinan dapat diartikan sebagai aktivitas yang berkaitan dengan nilai, sedangkan manajemen tidak demikian. Para pemimpin dituntut untuk melakukan hal-hal yang tepat, sebaliknya para manajer dituntut untuk melakukan hal-hal secara tepat (Hughes, Robert, &Gordon, 2012).
Berikut ini terdapat beberapa perbedaan antara manajer dengan pemimpin, antara lain sebagai berikut (Hughes, Robert, &Gordon, 2012) :
MANAJER
PEMIMPIN
          Manajer melaksanakan
          Pemimpin berinovasi
          Manajer memelihara
          Pemimpin mengembangkan
          Manajer mengontrol
          Pemimpin menginspirasi
          Manajer berpikir jangka pendek
          Pemimpin berpikir jangka panjang
          Manajer bertanya bagaimana dan kapan
          Pemimpin bertanya apa dan mengapa
          Manajer meniru
         Pemimpin menciptakan sesuatu yang original
          Manajer menerima status quo
          Pemimpin menolak status quo

            Namun, kepemimpinan dan manajemen dapat saling melengkapi satu sama lain dan keduanya merupakan hal yang vital bagi keberhasilan sebuah organisasi. Kemudian kepemimpinan dan menajemen adalah dua fungsi yang saling tumpang tindih. Meskipun terdapat beberapa fungsi khusus yang dilaksanakan oleh pemimpin dan manajer (Hughes, Robert, &Gordon, 2012).

Sumber Bacaan :

Hughes, Richard L., Robert C. Ginnett, & Gordon J. Curphy. (2012). Leadership : Enhancing the Lessons of Experience, 7th Ed. Terj : Putri Iva Izzati. _____ : McGraw Hill 

Tuesday, 11 October 2016

IDENTITAS DIRI



Definisi Identitas Diri
Erickson (1974) berpendapat bahwa identitas diri adalah identitas yang menyangkut kualitas “eksistensi” dari subjek, yang berarti bahwa subjek memiliki suatu gaya pribadi yang khas. Oleh karena itu, identitas diri berarti mempertahankan ‘suatu gaya keindividualitasan diri sendiri’ (Rahma & Reza, 2013). Menurut Sunaryo (2004) identitas diri adalah kesadaran akan diri pribadi yang bersumber dari pengamatan dan penilaian, sebagai sintesis semua aspek konsep diri dan menjadi satu kesatuan yang utuh (Wahyuni & Marettih, 2012). Sedangkan Menurut Erickson (1950, 1968) identitas diri  adalah pencapaian pribadi utama di usia remaja dan sebagai langkah penting menuju sosok dewasa yang produktif dan berguna. (Berk, 2012).
Berdasarkan definisi para ahli, dapat disimpulkan bahwa identitas diri adalah identitas yang menyangkut kualitas eksistensi individu yang bersumber dari pengamatan dan penilaian akan diri individu sehingga membentuk konsep diri yang menjadi satu kesatuan serta sebagai langkah menuju dewasa yang produktif dan berguna bagi lingkungan sosial.

Aspek-Aspek Identitas Diri
Identitas diri merupakan gambaran diri yang tersusun dari berbagai aspek, antara lain sebagai berikut (Berk, 2012):
·         Jejak karir dan pekerjaan yang ingin dirintis seseorang (identitas pekerjaan/karir)
·         Apakah seseorang itu konservatif, liberal, atau berada diantara keduanya (identitas politik)
·         Keyakinan spiritual seseorang (identitas spiritual)
·         Status seseorang apakah lajang, menikah, bercerai, dan seterusnya (identitas relasi)
·         Sejauh mana seseorang termotivasi untuk berprestasi dan intelektualitasnya (idenitas prestasi, intelektual)
·         Apakah seseorang itu heteroseksual,homoseksual atau bisesksual (identitas seksual)
·         Latar belakang Negara seseorang dan seberapa kuatkah orang itu beridentifikasi dengan budaya asalnya (identitas budaya atau etnik)
·         Hal-hal yang senang dilakukan seseorang seperti olahraga, hobi, music, dan sebagainya (minat)
·         Karakteristik kepribadian individual seperti introvert atau ekstrovert, bersemangat atau tenang, bersahabat atau kasar dan seterusnya (kepribadian)
·         Citra – tubuh individu tersebut (identitas fisik)

Dimensi Identitas Diri
        Menurut Erickson terdapat tujuh dimensi yang terdapat dalam identitas diri seseorang,
antara lain (Santrock, 2003):
1.      Genetik. Menurut Erickson perkembangan identitas adalah suatu hasil yang meliputi pengalaman individu pada lima tahap pertama dari perkembangan.
2.      Adaptif. Perkembangan identitas remaja dapat dilihat sebagai suatu hasil atau prestasi yang adaptif. Identitas adalah penyesuaian remaja mengenai keterampilan-keterampilan khusus, kemampuan, dan kekuatan ke dalam masyarakat di mana mereka tinggal.
3.      Struktural. Kebingungan identitas yang terjadi merupakan suatu kemunduran dalam perspektif waktu, inisiatif, dan kemampuan untuk mengkoordinasikan perilaku di masa kini dengan tujuan di masa depan. Kemunduran tersebut menunjukkan adanya defisit secara struktural.
4.      Dinamis. Erickson yakin bahwa identitas terbentuk ketika manfaat dari identifikasi berakhir. Proses ini muncul dari identifikasi masa kecil individu dengan orang dewasa yang kemudian menarik mereka ke dalam bentuk identitas baru, yang sebaliknya menjadi tergantung dengan peran masyarakat bagi remaja.
5.      Subjektif. Menurut Erickson individu dapat merasakan suatu perasaa kohesif maupun tidak adanya kepastiaan dalam dirinya.
6.      Timbal balik psikososial. Perkembangan identitas merupakan representasi jiwa diri, hubungan dengan orang lain, komunitas, dan masyarakat.
7.      Status eksistensial. Remaja menurut Erickson sama seperti seorang filsuf eksistensialisme yang mencari arti dalam hidupnya serta arti hidup secara umum.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Identitas Diri
Menurut Purwadi (2004), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi identitas diri seseorang, faktor tersebut meliputi :
·         Tingkat identifikasi pada orang tua sejak masa kanak-kanak hingga mencapai masa remaja. Sebab orang tua adalah lingkungan pertama dan utama bagi anak. Semua sikap dan perilaku orang tua menjadi sumber identifikasi bagi anak, dan selanjutnya menjadi bagian dari komponen pembentuk identitas dirinya.
·         Gaya pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua atau pihak yang mengasuh dan merawat individu tersebut. Penelitian Purwadi (2000) menunjukkan bahwa pengasuhan orang tua memiliki hubungan yang signifikan dengan pembentukan identitas diri remaja.
·         Keberadaan figure tokoh sukses yang dilihat remaja dapat memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam pembentukan identitas diri remaja. Remaja melihat, menilai, dan menemukan nilai-nilai yang dianggap baik ada pada figure tokoh tersebut, selanjutnya diinternalisasikan ke dalam dirinya untuk dijadikan bagian dari pembentuk identitas dirinya.
·         Harapan sosial tentang identitas seseorang. Harapan-harapan itu muncul dalam keluarga, sekolah, dan teman sebayanya. Setiap individu akan selalu menghadapi tuntunan itu. Individu yang bergaul dengan lingkungannya selalu berhadapan dengan nilai atau kriteria yang dipandang utama menurut ukuran masyarakat dimana individu tersebut berbeda. Kriteria tersebut, secara langsung maupun tidak langsung akan membuat individu berusaha untuk dapat memenuhinya . setiap individu ingin dipandang oleh orang-orang sekitar sebagai orang baik, dan memenuhi tuntutan masyarakat sekitarnya. Maka, kriteria tentang keutamaan (baik-buruk) tersebut akan memberikan arah pada remaja dalam membentuk identitas dirinya.
·         Tingkat keberhasilan seseorang dapat mengungkap berbagai alternatif identitas diri. Artinya, seberapa banyak seseorang itu mampu mengungkap dan menemukan pilihan komponen-komponen isi pembentuk identitas dirinya. Semakin banyak alternative pilihan dapat diungkap, baik melalui sumber-sumber bacaan, televise, maupun melalui pengamatan terhadap objek-objek di lingkungan sekitarnya; semakin lengkap pula komponen yang akan ikut membentuk identitas diri remaja tengah.
·         Kepribadian yang dicapai pada masa preadolescent, juga memberikan sumbangan yang sangat signifikan bagi proses pembentukan identitas diri remaja. Maksudnya, bagaimana keadaan kepribadian pada sebelum masa remaja, akan menjadi fondasi yang kuat untuk terbentuknya identitas diri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Reese dkk (Dusek, 1977) bahwa tahap perkembangan satu dengan tahap perkembangan yang lain merupakan kelanjutan.

Sumber Bacaan :
Berk, Laura E. (2012). Development Through The Lifespan Dari Prenatal Sampai Masa Remaja, Transisi Menjelang Dewasa, Edisi Kelima. Terj : Daryatno. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Purwadi. (2004). “Proses Pembentukan Identitas Diri Remaja”. [Online]. Dalam Jurnal Humanitas : Indonesian Psychologycal Journal, Vol. 1, No. 1, Hlm. 43 – 52. Diunduh dari http://download.portalgaruda.org/article.php?article=124060&val=5536 (Diakses pada Rabu, 24 Februari 2016 pukul 16.42 WIB)
Rahma, Fadilah Aulia. (2013). “Hubungan Antara Pembentukan Identitas Diri Dengan Perilaku Konsumtif Pembelian Merchandise Pada Remaja”. [Online]. Dalam Jurnal Character, Vol. 1, No. 3, Hlm. 1 - 6 Diunduh dari http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwihndmbj5DLAhUCWo4KHYLyDhEQFgg4MAM&url=http%3A%2F%2Fejournal.unesa.ac.id%2Farticle%2F4733%2F17%2Farticle.pdf&usg=AFQjCNHAeBP2O-KOkTJjol3018dvjTiKrA&bvm=bv.114733917,d.c2E Pada Rabu, 24 Februari 2016 pukul 16.50 WIB
Santrock, John W. (2003). Perkembangan Remaja. Terj : Shinto B. Adelar & Sherly Saragih. Jakarta : Erlangga.
Wahyuni, Winda & Anggia K. E. Marettih. (2012). “Hubungan Citra Tubuh Dengan Identitas Diri Pada Remaja Dengan Disabilitas Fisik”. [Online]. Dalam Jurnal Psikologi, Vol. 8, No. 1, Hlm. 62 - 66. Diunduh dari http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/psikologi/article/view/184/172 (Diakses pada Rabu, 24 Februari 2016 pukul 16.53 WIB)